Valuasi Saham Perbankan Indonesia

Ada beberapa cara untuk menentukan valuasi dari saham sektor perbankan. Tidak ada yang pasti benar dari beberapa metode dibawah ini yang dijabarkan, tetapi semuanya tergantung mau dilihat dari segi mana valuasi saham tersebut.

Metode Valuasi:

  • P/BV ( Price to Book Value )

metode ini merupakan metode yang paling umum digunakan untuk valuasi saham perbankan. BV = total equity / jumlah saham. Jadi metode ini digunakan untuk melihat harta bersih bank tersebut setelah dikurangi berbagai macam kewajibannya. Kenapa metode ini paling banyak digunakan? karena sektor perbankan merupakan satu-satunya sektor usaha dimana modal usahanya termasuk sangat kecil jika dibandingkan dengan total asetnya. P/BV = harga saham / BV. Semakin tinggi P/BV berarti harga saham tersebut semakin mahal. Tetapi hal ini sangat bergantung terhadap ROE yang berhasil dibukukan oleh bank tersebut. Semakin tinggi ROE, maka investor semakin berani membeli harga saham bank tersebut dengan P/BV yang semakin tinggi.

  • PER

Merupakan rasio antara harga saham dengan laba bersihnya. Semakin tinggi PER maka harga saham tersebut semakin mahal, jika semakin besar laba bersih perusahaan, maka rasio PER akan semakin turun. Kelemahan dari metode ini adalah hasil laba bersih dari suatu tahun buku tidak dapat diketahui ( jika tidak membaca secara lengkap laporan keuangan perusahaan tersebut ). Bisa saja lonjakan laba bersihnya berasal dari penjualan aset tetap, atau laba kurs, dll yang diluar dari kinerja operasional perusahaan tersebut. Jadi laba tadi bersifat one time only, not continuous.

  • Market Caps to Deposit

Metode ini digunakan untuk melihat seberapa jauh representasi prospek pertumbuhan dari sebuah bank. Logika yang digunakan u/ pengaplikasian rasio ini adalah DPK merepresentasikan dana yang bisa digunakan oleh bank tersebut u/ disalurkan menjadi aset produktif, terutama yang berimbal hasil tinggi. Pengukuran dengan rasio ini hanya akan valid jika sektor perbankan dalam kondisi baik, tidak dalam kondisi krisis ( utamanya krisis likuiditas ). Karena sebagian besar DPK tersebut bisa disalurkan menjadi kredit.

  • ROE to COE

Bila ROE ( Return On Equity ) dibawah COE ( return minimum yg disyaratkan investor untuk berinvestasi pada suatu saham ), maka investasi pada saham bank tersebut kurang baik ( beresiko tinggi ).

About pinarta
Independent stock analyst, investors, and educator.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: