Dijual iPhone 6 16 GB 

Dijual iPhone 6 16GB original garansi resmi. Jika iPhone ini bermasalah anda bisa claim garansi ke iBox. 

Bulp Share

Saya telah melakukan Bulp! Lihat Bulp saya : Perbedaan koneksi data XL prabayar & pascabayar.- http://bulp.org/ONptX

Analisa Kasus Gagal Bayar Koperasi Cipaganti Citra Graha

Akhir – akhir ini dunia keuangan & investasi Indonesia digegerkan lagi dengan kasus gagal bayar produk keuangan / investasi dari Koperasi Cipaganti. Kasus gagal bayar ini senilai lebih dari Rp 3,2 triliun dan melibatkan lebih dari 8.200 investor. Sebelum saya mulai menganalisa kenapa kasus gagal bayar ini bisa terjadi, saya akan menceritakan tentang skema yang ditawarkan pihak Koperasi Cipaganti kepada masyarakat. Pada tulisan kali ini saya tidak akan membahas kasus ini dari segi hukum, maupun dimana letak perlindungan OJK, dan perizinan dari Menkop yang ditempel di brosur yang disebarkan tetapi tidak ada artinya ketika produk investasi ini menjadi kasus.

Koperasi Cipaganti menawarkan skema investasi ini dengan cara melakukan penyertaan modal minimal sebesar Rp 100 juta. Tingkat bunga yang diberikan tergantung dari berapa lama investor bersedia menyimpan uang di Koperasi tersebut dengan minimal penyimpanan 1 tahun sampai dengan 5 tahun, dan dengan bagi hasil keuntungan dari 1,5% per bulan sampai 1,9% per bulan. Disini Koperasi tidak menyebutkan berapa tepatnya dana yang dibutuhkan untuk melakukan ekspansi bisnis Cipaganti ( utamanya pada usaha transportasi ), Koperasi juga tidak menyebutkan kapan jatuh tempo pengembalian hutang dana Investor ( Investor jika ingin perpanjang, maka modal itupun juga akan langsung masuk kembali )

Pada awal kasus gagal bayar bagi hasil koperasi, pihak koperasi mengatakan bahwa ini terjadi karena penurunan harga batubara & karena ada kebijakan pemerintah yang melarang impor sumber daya alam mentah ( raw material ) dan harus memberikan nilai tambah berupa pengolahan.

Pada dasarnya produk investasi itu mempunyai 2 bentuk:

  1. Efek Ekuitas –> tidak mempunyai masa jatuh tempo, & tidak boleh menjanjikan jumlah keuntungan pasti di depan
  2. Efek Hutang –> harus mempunyai masa jatuh tempo, & jumlah kupon yang diberikan tercantum dengan jelas di depan.

Menurut Penulis, kasus gagal bayar ini terjadi karena:

  • Koperasi tidak mencantumkan dengan jelas berapa dana yang dibutuhkan untuk ekspansi, & mereka terus menerima dana dari masyarakat ( tentu beserta beban bunga yang semakin berat ), dan karena Koperasi tidak mampu memutar modal yang berlebihan tersebut di bisnis yang hasilnya bisa lebih tinggi dari beban bunga ke Investor –> maka akhirnya penghimpunan modal yang berlebihan ini menjadi Skema Ponzi ( gali lobang, tutup lobang yang akhirnya gagal bayar )
  • Koperasi tidak mencantumkan dengan jelas kapan modal dari investor akan dikembalikan, yang ada investor yang menentukan berapa lama modal disimpan. Bahkan jika Investor ingin melanjutkan, maka Koperasi dengan senang hati akan menerima dana investor tersebut.
  • Karena Koperasi menerima modal yang sangat berlebihan, maka Manajemen harus segera mencari bisnis lain yang bisa memberikan tingkat pengembalian modal yang lebih tinggi dari bunga yang dibebankan oleh investor. Maka Manajemen dengan sembrono masuk ke dalam bisnis batubara, dan penyewaan alat berat / heavy equipment yang bukan merupakan keahlian / kompetensi dari Manajemen Cipaganti Group ( Cipaganti Group memiliki kompetensi di bidang bisnis transportasi ) yang hasilnya bukan untung malah buntung / rugi dan mengakibatkan Koperasi Cipaganti mengalami gagal bayar.
  • Belum dari aspek legalitasnya, tidak jelas apakah Koperasi Cipaganti memiliki ijin untuk menghimpun dana masyarakat dari Regulator yang berwewenang memberikan ijin.
  • Belum lagi keanehan, kenapa Cipaganti Group tidak meminjam uang saja kepada perbankan dari pada menghimpun dana masyarakat dengan beban bunga yang lebih berat daripada bungan dari perbankan. Aneh kan?

Demikian sedikit sharing dari saya mengenai Kasus Koperasi Cipaganti, semoga bermanfaat!

 

Analisa Kondisi Ekonomi Indonesia Terkini

              Kemunculan esai artikel ini bermula dari pertanyaan kawan – kawan yg menanyakan tentang bagaimana kondisi ekonomi Indonesia yang sebenarnya? Dan apa yg bisa dilakukan untuk menghadapi kondisi tersebut. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, tentu kita harus membahas tentang kondisi ekonomi global. Karena di jaman seperti sekarang ini semua saling terlibat & terkait.

                Kondisi ekonomi global untuk sementara ini sampai dengan tahun 2014 diperkirakan masih terus menunjukkan perbaikan, khususnya ekonomi AS, zona Euro, dan Jepang. Perbaikan ekonomi global inilah yg akan mengimbangi perlambatan pertumbuhan ekonomi yg sekarang sedang terjadi di negara berkembang. Kondisi ekonomi global yg membaik ini, tentu akan berimbas positif terhadap harga komoditas yang akan naik, dikarenakan permintaan yg juga akan naik.

                Sedangkan untuk kondisi ekonomi Indonesia sendiri adalah Indonesia sekarang sedang berada pada siklus perlambatan pertumbuhan ekonomi. Kenapa Indonesia mengalami deselerasi ekonomi sampai akhir tahun 2013 ini?

Penyebabnya adalah:

1.  Laju inflasi yang tinggi

Indonesia mengalami inflasi yang tinggi dengan kenaikan harga bahan pokok & melemahnya nilai tukar rupiah terhadap USD yg mencapai 12%, puncaknya pada saat perayaan Lebaran. Yang mengakibatkan BI menaikkan suku bunga acuan sebesar 150 bps menjadi 7,25%.

2. Defisit neraca perdagangan

Kita mengalami defisit neraca perdagangan yg cukup besar, mencapai 4,4% terhadap PDB. Dikarenakan impor kita yg masih terus besar ( terutama impor migas, bahan baku, & barang modal ), dan kecilnya ekspor kita ( karena masih lemahnya pasar komoditas )

Seperti kita ketahui bersama bahwa PDB Indonesia dengan menggunakan metode pendekatan pengeluaran terdiri dari: konsumsi rumah tangga, investasi, pengeluaran pemerintah, ekspor, dan impor.

Inflasi yang tinggi menyebabkan melemahnya daya beli masyarakat kita, ditambah dengan defisit neraca perdagangan ( karena impor > ekspor ). Kombinasi kedua hal inilah yg menyebabkan ekonomi kita mengalami perlambatan pertumbuhan. Sampai dengan akhir tahun 2013 pertumbuhan ekonomi kita diperkirakan disekitar 5,5%. Sedangkan laju inflasi untuk full year 2013 akan berada di 9%.

Laju inflasi yg tinggi akan melunturkan tingkat kepercayaan konsumen, tingkat kepercayaan konsumen yg rendah akan mengurangi permintaan yang tercermin dari penurunan penjualan ritel, penjualan mobil, permintaan kredit bank, dan penjualan semen.

Motor utama penggerak ekonomi Indonesia adalah kombinasi dari konsumsi rumah tangga, investasi, dan pengeluaran pemerintah. Konsumsi rumah tangga didorong oleh besarnya jumlah penduduk Indonesia ( ± 240 juta jiwa ), dan bertumbuhnya kelompok masyarakat berpendapatan menengah. Konsumsi rumah tangga masih bisa tumbuh 4%-5% di tengah berbagai krisis yg melanda ekonomi global.

 

Kemana saja larinya uang yang berasal dari konsumsi rumah tangga?

Menurut survey dari MacKinsey pada tahun 2012, diperoleh data sebagai berikut:

1. Kelompok dengan pendapatan s/d  Rp 47 juta / tahun

Mereka menganggarkan 41% utk makanan & minuman, 15% utk rumah, telpon, dan listrik, 12% untuk busana dan penampilan, 9% untuk kesenangan, 8% utk pendidikan dan kesehatan, dan 8% utk saving & investment, 7% untuk transportasi.

2. Kelompok dengan pendapatan Rp 48 juta / tahun – Rp 127 juta / thn

Mereka menggunakan 28% untuk kebutuhan makanan & minuman, 21% untuk saving & investment, 14% untuk kesenangan, 12% untuk rumah, telekomunikasi & listrik, 11% untuk busana, 10% untuk pendidikan & kesehatan, dan 6% untuk transportasi.

3. Kelompok dengan pendapatan Rp 128 jt / thn – Rp 443 juta / thn

Mereka menggunakan 53% untuk saving & investment, 18% untuk makanan & minuman, 12% untuk kesenangan, 5% untuk busana, 5% untuk pendidikan & kesehatan, 5% untuk rumah, telekomunikasi & listrik, serta 3% untuk transportasi

4. Kelompok dengan pendapatan diatas Rp 444 jt / thn

Kelompok ini menggunakan 80% untuk saving & investment, 8% untuk kesenangan, 7% untuk makanan & minuman, 3% untuk pendidikan & kesehatan, 1% untuk busana, dan <1% untuk sisanya.

Dari data diatas, dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi pendapatan seseorang maka semakin besar kebutuhan orang tersebut pada produk jasa keuangan seperti saving & investment. Semakin rendah pendapatan seseorang, maka mereka akan mengalokasikan dananya terutama untuk kebutuhan makanan & minuman, serta untuk busana & penampilan.

Mesin pendorong yang berikutnya adalah Investasi & pengeluaran pemerintah:

–          Permintaan dan konsumsi domestik yang begitu kuat, akan menarik pengusaha baik dalam negeri maupun asing untuk mengembangkan usahanya dan memasuki pasar Indonesia yang besar & potenisal . Ketertarikan pengusaha itu akan diwujudkan dalam bentuk investasi, baik berupa PMA maupun PMDN.

–          Untuk menambah daya saing Indonesia dalam menarik investor asing maka dibutuhkan infrastruktur yg memadai dan modern. Belakangan ini pemerintah serius untuk membenahi dan menambah infrastruktur. Keseriusan tersebut tercermin pada peningkatan pembiayaan infrastruktur melalui APBN.

–          Perbaikan alokasi anggaran dan peningkatan belanja pemerintah dalam bidang infrastruktur & kesejahteraan rakyat ( kesra ) dapat mengerek daya beli masyarakat.

–          Proyek infrastruktur penting yg telah atau sedang diselesaikan adalah: Proyek Pembangkit Listrik 10,000 MW Tahap I, Jembatan Suramadu, Pembangunan Jalan Tol Trans Jawa, perbaikan sejumlah bandara.

Jadi kesimpulannya adalah Indonesia kedepan memang akan mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi ( catat: perlambatan pertumbuhan, jadi masih tumbuh! ).

 

Definisi & Kegunaan MKBD dalam menilai Perusahaan Sekuritas

Apa itu MKBD?

MKBD merupakan kependekan dari Modal Kerja Bersih Disesuaikan.

Jika kecukupan modal di perbankan diukur dengan menggunakan CAR ( Capital Adequacy Ratio ), maka MKBD merupakan ukuran kecukupan modal bagi perusahaan sekuritas untuk beroperasi. Secara umum nilai MKBD di perusahaan sekuritas semakin besar, maka semakin baik. Yang artinya kemampuan operational / transaksi perusahaan sekuritas itu semakin besar & leluasa. Secara umum nilai MKBD minimum yang baik berkisar Rp 100 milliar.

Rumus perhitungan MKBD:

MKBD = total aset lancar – total kewajiban

Dari rumus diatas jelas, bahwa perusahaan sekuritas dapat meningkatkan nilai MKBD dengan dua cara, yaitu: dengan memperbesar jumlah aset lancar atau dengan mengurangi jumlah kewajiban mereka.

Dari rumus ini juga terlihat, bahwa perusahaan sekuritas yg memiliki aset tetap yg besar secara umum bisa dikatakan struktur keuangannya kurang baik, krn kegiatan operasional sekuritas sebagian besar menggunakan aset lancar, terutama cash & efek ( saham, obligasi, unit penyertaan reksadana). Jadi dapat saya sarankan utk menghindari perusahaan sekuritas yang memiliki perbandingan aset tetap yg besar dibandingkan aset lancarnya.

Aset lancar sendiri masih harus dilihat lagi bentuk, jenis, kualitas, & likuiditasnya. Dalam perhitungan MKBD, kualitas aset lancar akan mempengaruhi nilai aset tersebut untuk dipergunakan menghitung MKBD. Untuk lebih jelasnya mari lihat ilustrasi berikut:

Illustrasi 1:

Sekuritas A dan B memiliki surat berharga yg nilainya sama yaitu 100 juta. Sekuritas A memiliki surat berharga dalam bentuk saham ASII, sedangkan sekuritas B dalam bentuk obligasi dari sebuah perusahaan yg hampir bangkrut dan sudah beberapa bulan tdk membayar kupon dari obligasi tersebut. Apakah kedua surat tadi akan dinilai sama dalam perhitungan MKBD? Tentu tidak, karena saham ASII bisa dicairkan dengan mudah dengan cara dijual di Pasar Sekunder dengan kuotasi aktif. Sedangkan obligasi perusahaan yang hampir bangkrut tentu susah untuk dijual di Pasar Sekunder, jika akhirnya bisa terjualpun tentu dengan harga yang jauh di bawah harga belinya.

Illustrasi 2:

Sekuritas X, dan Y memiliki surat berharga yang nilainya sama yaitu 100 juta. Sekuritas X memiliki surat berharga dalam bentuk saham TLKM, sedangkan sekuritas B dalam bentuk saham AQUA. Lebih baik mana kualitas MKBD sekuritas X atau Y? lebih baik kualitas MKBD sekuritas X, karena saham AQUA kurang likuid ( walaupun secara kualitas dan fundamental AQUA tidak kalah bagus dari TLKM ). Saham AQUA yang kurang likuid ini bisa menimbulkan resiko tidak bisa langsung terjual, jika terjual kadang spread harganya lebar. Walaupun harga surat berharga kedua sekuritas X, dan Y ini sama 100 juta. Tetapi tetap lebih baik yang efek yang dijadikan MKBD yang likuid.

Perusahaan efek sangat tergantung pada aset lancar utk menunjang kegiatan operasionalnya. Mereka akan memanfaatkan semaksimal mungkin setiap aset lancar yg mereka miliki untuk dapat mengembalikan return yg setinggi – tingginya

Terkadang perusahaan sekuritas mengalami keterbatasan dana dalam menunjang kegiatan operasionalnya. Bagaimana mereka memperoleh dana yg dibutuhkan tersebut? Salah satu caranya dengan Sale & Repurchase Agreement ( Repo )

Repo adalah suatu perjanjian / kontrak dimana pemilik aset ( dalam hal ini saham / obligasi ) menyerahkan aset tersebut ke pihak lain & sebagai gantinya menerima dana dari pihak tersebut, dengan perjanjian bahwa pada saat jatuh tempo yg telah disepakati, pemilik aset akan membeli kembali aset yg telah diserahkan sesuai dengan nilai yg telah ditentukan dalam kontrak.

Jika pihak yg me-repo-kan ( pihak yg menyerahkan aset dan menerima dana ) adalah perusahaan sekuritas, maka perusahaan sekuritas harus mencatat hal ini dibagian kewajiban ( liabilities ) pada laporan keuangan biasanya dinamakan dengan akun efek jual dengan janji beli kembali.

Sementara pihak yg menerima aset dan menyerahkan dana biasa disebut dengan penerima repo / reverse repo adalah perusahaan sekuritas maka mereka wajib mencatat hal ini dibagian aset dengan nama akun efek beli dengan janji jual kembali.

Public Expose & Penawaran Obligasi Berkelanjutan PT. Bank CIMB Niaga Tbk

PT. Bank CIMB Niaga akan menawarkan Obligasi berkelanjutan I dengan target dana yang akan dihimpun Rp 8.000.000.000.000,- ( Delapan Triliun Rupiah ), dalam rangka tersebut Perseroan akan menerbitkan dan menawarkan Obligasi berkelanjutan I Bank CIMB Niaga tahun 2012 Tahap I dengan tingkat bunga tetap dengan jumlah pokok sebanyak – banyaknya sebesar Rp 2.000.000.000.000 ( Dua Triliun Rupiah ).

Obligasi ini akan terdiri dari 2 seri, yaitu:

–          Seri A: Jangka waktu obligasi seri A ini adalah 3 tahun. Pembayaran obligasi akan dilakukan secara penuh ( full payment ) pada tanggal 30 Oktober 2015. Kisaran kupon yang ditawarkan untuk obligasi seri A ini adalah 7% – 7,6%

–          Seri B: Obligasi ini mempunyai jangka waktu 5 tahun. Pembayaran obligasi akan dilakukan secara penuh ( full payment ) pada tanggal 30 Oktober 2017. Kisaran kupon yang ditawarkan untuk obligasi seri B ini adalah 7,6% – 8,35%

Obligasi ini diterbitkan tanpa warkat dan ditawarkan dengan nilai 100,00% ( Seratus Persen ) dari jumlah pokok. Kupon Obligasi akan dibayarkan setiap triwulan. Pembayaran bunga Obligasi pertama akan dilakukan tanggal 30 Januari 2013.

Obligasi ini tidak dijamin dengan jaminan khusus, tetapi dijamin dengan seluruh harta kekayaan Perseroan baik barang bergerak maupun barang tidak bergerak, baik yang telah ada maupun yang akan ada di kemudian hari menjadi jaminan bagi Pemegang Obligasi ini.

Hak pemegang obligasi ini adalah paripassu tanpa hak preferen dengan hak – hak kreditur Perseroan  lainnya baik yang ada sekarang maupun di kemudian hari, kecuali hak – hak kreditur perseroan yang dijamin secara khusus dengan kekayaan Perseroan baik yang telah ada maupun yang akan ada di kemudian hari.

Wali Amanat dari Obligasi ini adalah PT. Bank Permata Tbk

Penjamin Pelaksana Efek adalah PT. CIMB Securities ( Terafiliasi )

Masa Penawaran Awal / Book building: 25 september 2012 – 9 Oktober 2012

Perkiraan Tanggal Efektif: 19 Oktober 2012

Perkiraan Masa Penawaran: 23 – 24 Oktober 2012

Perkiraan Tanggal Penjatahan: 25 Oktober 2012

Perkiraan Tanggal Distribusi Obligasi secara Elektronik: 30 oktober 2012

Perkiraan Tanggal Pencatatan pada Bursa Efek Indonesia: 31 Oktober 2012

Obligasi ini memiliki rating idAAA dari Pefindo & AAA(idn) dari Fitch.

Dana hasil Penawaran Umum Obligasi ini setelah dikurangi biaya – biaya emisi seluruhnya akan dipergunakan Perseroan untuk pembiayaan ekspansi kredit.

Bagi yang berminat dengan obligasi yg menawarkan kupon lebih tinggi dari ORI 009 ( kupon 6,25% ) dan memiliki pendapatan tetap, silahkan berburu obligasi ini…..:-) ciaooo

Kinerja Keuangan HRUM semester I 2012

Berdasarkan laporan keuangan semester I 2012 PT. Harum Energy Tbk (“HRUM”) membukukan pendapatan sebesar $ 583.1 juta naik 71.13% dari periode sebelumnya sebesar $ 340.7 juta. Beban pokok penjualan tercatat sebesar $ 393.2 juta naik 98.34% dari periode sebelumnya sebesar $ 198.2 juta. Kenaikan beban pokok penjualan ini lebih tinggi dari kenaikan penjualan, hal ini menunjukkan bahwa operasional perseroan kurang efisien. Hal ini mengakibatkan kenaikan pada laba kotor hanya sebesar 33.29% menjadi $ 189.9 juta.

Pada semester I 2012 ini HRUM memproduksi batubara sabanyak 6,1 juta ton, berarti HRUM bisa memperoleh ASP $ 95,6 / ton. Tingginya beban penjualan salah satunya disebabkan oleh kenaikan pada harga bahan bakar, oleh karena itu perusahaan akan berusaha untuk melakukan tindakan efisiensi. Tindakan efisiensi yang akan dilakukan adalah: mengimplementasikan program efisiensi bahan bakar, menurunkan penggunaan perealatan yang tidak essential, dan menjadwal ulang proyek yang tidak berkaitan dengan produksi.

Pada sisi liabilitas perseroan membukukan $ 148,4 juta naik 23,7% dari periode sebelumnya. Kenaikan pada sisi liabilitas ini sejalan dengan kenaikan hutang operational pada kontraktor pertambangan. Kenaikan ini sejalan dengan tingkat produksi perseroan yang juga meningkat. Hutang ini termasuk dalam perputaran modal perseroan. Kinerja positif HRUM ini ditopang oleh kenaikan volume penjualan dan didorong oleh kemampuan produksi. Jika HRUM mengejar pertumbuhan kinerja untuk tahun buku 2012 – 2013 dengan cara memperbesar produksi dan volume penjualan, ditengah harga komoditas yang melemah, dan tingginya biaya produksi. Maka dalam jangka panjang akan berdampak kurang baik bagi harga sahamnya.

Pros:

–          Posisi neraca yang kuat.

–          Beban keuangan yang relatif ringan.

–          Pada semester I ini HRUM bisa memperoleh ASP $95,6 / ton lebih tinggi dari rata-rata industri dan indeks harga batubara Newcastle.

–          Kebijakan HRUM yang membagikan porsi deviden cukup tinggi.

 

Cons:

–          HRUM merupakan emiten batubara dengan biaya produksi yang lumayan tinggi

–          Ruang untuk pertumbuhan bagi HRUM sudah terbatas dikarenakan cadangan / reserve batubara yang sudah mulai menipis.

–          Kondisi pasar global batubara yang melemah, yang berakibat pada rendahnya harga jual rata – rata batubara ( ASP ). Akan membuat ASP perseroan pada semester berikutnya turun kira – kira sebesar 10%-13%.

–          HRUM merupakan emiten batubara yang sebagian besar penjualannya berorientasi ekspor ( padahal pasar ekspor, meruapakan pasar yang melemah paling besar akibat dari krisis ekonomi yang dialami oleh negara Barat )

Prospek Saham Garuda Indonesia

Airbus 3303 penjamin emisi Garuda, yaitu: Danareksa Sekuritas, Mandiri Sekuritas, dan Bahana Sekuritas terpaksa membeli sisa saham GIAA senilai Rp 2,25 triliun dengan harga per lembar saham Garuda Indonesia “GIAA” Rp 750,-

Mereka membelinya dengan menggunakan hutang, dan harga saham GIAA sampai sekarangpun belum bisa menyentuh harga pada waktu IPO. Jadi ketiga sekuritas itu juga nyaris bangkrut dikarenakan masih mengalami floating loss, kena beban bunga, dan tidak bisa dijual.

Maka dari itu mereka, melalui Mentri BUMN ( Bapak Dahlan Iskan ) akan segera melepas sisa saham GIAA. Tetapi agar bisa melepas saham GIAA, dan menemukan pembeli tentu kinerja Garuda Indonesia harus diperbaiki terlebih dahulu agar ada pihak lain yang mau membelinya ( apalagi membeli secara premium 10% di atas harga pasar atau lebih tinggi dari harga IPO )

Tetapi kinerja GIAA untuk tahun 2011 memang membaik, dan iklim ekonomi sekarang memang lagi kondusif dan mendukung bisnis transportasi penerbangan.

Per akhir 2011, Garuda menorehkan laba usaha sebesar Rp 1,01 triliun. Laba bersih Garuda juga naik sebesar 56,07% y-o-y menjadi Rp 808,67 milliar. Kinerja bagus mereka ditunjang oleh pengadaan pesawat baru yang lebih hemat energi, penambahan jumlah penumpang, dan rute penerbangan baru yang banyak peminatnya dan menguntungkan.

Garuda juga terus mengembangkan pangsa pasar corporate sales, dengan cara bekerjasama dengan lebih 1.641 perusahaan di Indonesia. Terakhir Garuda sudah menandatangani MOU dengan Shell untuk keperluan transportasi karyawan Shell keluar dan masuk ke Indonesia.

Untuk tahun 2012 manajemen Garuda, lewat CEO Emirsyah Satar mengatakan “ pendapatan Garuda akan tumbuh sekitar 25,18% dari tahun 2011 menjadi Rp 34 triliun, laba bersih akan meningkat menjadi Rp 1 triliun atau sekitar Rp 66,1 per saham”. Didukung oleh peringkat surat utang Indonesia yang menjadi Investment Grade dan tumbuhnya masyarakat ekonomi kelas menengah.

Jika menggunakan metode valuasi secara konservatif yaitu PE 11x, maka harga wajar saham GIAA akan berada di Rp 725 per saham.

Disewakan Apartemen Green Park View

Disewakan Apartemen Green Park View Tower F lt. 7

Lokasi: Daan Mogot Km 14, Cengkareng, Jakarta Barat.

Fasilitas:

  • Kolam Renang ( di tiap tower ada 2 kolam renang )
  • Indomaret
  • StarMart ( Convenience Store )
  • Laundry
  • Kantin
  • Mail Box
  • TV Cable
  • Security 24 jam
  • CCTV
  • Balkon

Terletak di lokasi yang sangat strategis:

  • Depan halte busway Transjakarta ‘ Sumur Bor ‘
  • Mal Daan Mogot Baru, RS Hermina ( 500 m )
  • Bandara International Soekarno Hatta ( 7 km )
  • Kalideres Public Terminal ( 2 km )
  • Garuda Indonesia Training Centre ( Duri Kosambi )
  • Dekat dengan Mall Citraland, Puri Indah, Taman Palem
  • Dekat dengan Universitas Trisakti, Tarumanegara.
  • Banyak dilewati Angkutan Umum ( Kopaja 95, Kopaja 93 )

Tipe Studio, dengan luas 21 meter persegi

Unit baru dan sudah FULL FURNISHED. Tinggal masuk bawa baju!!

Berikut gambar dari unit tersebut:

Kinerja Keuangan PT. Bank Danamon Indonesia Tbk Q3 2011

Kinerja Keuangan PT. Bank Danamon Indonesia Tbk (“BDMN”) pada 9 bulan pertama untuk tahun 2011 adalah:

  • Total loans mencapai IDR 97,4 triliun atau naik 26% dari tahun sebelumnya. Segmen mass market masih menjadi mesin utama pertumbuhan tersebut, dengan tumbuh sebesar 30%.
  • Pendanaan / funding tumbuh sebesar 21% menjadi IDR 87 triliun.
  • Net Interest Margin ( NIM ) / Margin Bunga Bersih Danamon berada di posisi 9.9%
  • Fee Based Income naik 19% menjadi IDR 3 triliun. Didukung oleh fee yang berhubungan dengan kredit, bancassurance, dan asuransi umum. 
  • Laba bersih naik 11% menjadi IDR 2,45 triliun. Posisi ROE menjadi 18,3%
  • Dengan adanya right issue, maka posisi CAR ( Capital Adequancy Ratio ) BDMN sekarang adalah 17,8%.

BDMN memberikan standard yang tinggi dalam pemberian kredit, hal ini mengakibatkan cost of credit over average earning assets naik menjadi 3% dari 3.5% yoy (year on year ) . Biaya operasional BDMN juga naik sebesar 16% menjadi IDR 5,6 triliun karena penambahan cabang di seluruh Indonesia. Laba per saham BDMN menjadi IDR 286 dibandingkan IDR 261 yoy.

 

Laporan Laba Rugi

Dengan kondisi makroekonomi Indonesia yang cukup kondusif, hal ini mendorong kinerja operasional dan finansial BDMN yang membaik juga. Hal ini dapat dilihat dari Total Loans yang berhasil disalurkan BDMN naik 26% menjadi IDR 97,4 triliun yang mengakibatkan BDMN dapat membukukan kenaikan sebesar 8% pada NII ( Net Interest Income ) / Pendapatan Bunga Bersih sebesar IDR 7,97 triliun. Persaingan yang ketat antar bank dalam pemberian kredit di semua segmen, mengakibatkan yield keuntungan turun dari 19,4% menjadi 17,6%.

Pada sisi pendanaan juga terjadi persaingan yang sengit, karena bank memerlukan dana untuk mendanai kredit yang mereka salurkan dan laju pertumbuhan kredit berjalan lebih cepat dari laju pertumbuhan pendanaan maka biaya dana / cost of fund naik dari 5,4% menjadi 5,6%. 

Sisi pendapatan bank yang non interest berhasil membukukan kenaikan sebesar 19% menjadi IDR 3 triliun. 73% merupakan pendapatan berupa fee dari pemberian kredit, 6% dari bancassurance ( kemitraan strategis dengan PT. Asuransi Jiwa Manulife ), dan 12% dari asuransi umum. Pendapatan bank non bunga ini berkontribusi sebesar 27% dari total pendapatan operasional bank.

Biaya operational bank membengkak sebesar 16% menjadi IDR 5,63 triliun dari IDR 4,84 triliun tahun lalu. Hal ini disebabkan oleh penambahan tenaga kerja, kenaikan gaji karyawan, program marketing dan promosi yang intensif, dan dampak dari inflasi. Bank juga terus berinvestasi demi masa depan dengan terus memperluas jaringannya ( cabang konvensional, maupun ATM ). Hal ini dan mengecilnya margin keuntungan karena kompetisi mengakibatkan cost to income ratio membesar menjadi 51,3% dari 48,9% yoy.

Neraca

Dengan kondisi lingkungan operasional yang kurang mendukung maka NPL BDMN mengalami kenaikan menjadi 3,1% dari 2,9%. Adira Finance sebagai anak usaha BDMN melakukan penjualan obligasi sebesar IDR 2 triliun, dan BDMN melakukan right issue sebesar IDR 5 triliun. Maka likuiditas bank yang tercermin dalam LDR mencapai 88,9% ( vs 93,4% in 3Q10 )